Muhammad Aminudin

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

"KORAN BEKAS"

“Sekolah sebagai tempat menyemai pengetahuan dan nilai-nila harus ikut ambil bagian dalam upaya mendudukan koran sebagai sumber belajar yang bermartabat.”

Kegiatan Jumat pagi hari itu adalah Jumat bersih. Selama 45 menit seluruh siswa melakukan kebersihan kelas dan lingkungannya. Lantai, meja, kursi, langit-langit hingga kaca jendela, semuanya kena sasaran kebersihan. Wali kelas mendampingi kegiatan itu. Kami yang diberi tanggung jawab mengelola perpustakaan pun melakukan hal yang sama, sak iyeg sa eko proyo, kegiatan ini bukan hanya untuk peserta didik, tetapi untuk seluruh warga sekolah, tanpa kecuali.

Sudah sepuluh menit kegiatan itu berlangsung, tiba-tiba datang serombongan siswa dari berbagai kelas. Tujuannya sama yaitu minta “koran bekas.” Jika sudah seperti ini perpustakaan sebagai sasaran, setiap kelas akan menuju ke perpustakaan untuk minta “koran bekas.” Memang, di perpustakaanlah koran-koran yang setiap hari datang tersimpan. Koran dalam satu bulan di pajang di rak khusus di ruang baca. Sedangkan koran lama tersimpan rapi diruang penyimpanan.

“Untuk apa?” Tanya saya.

“Untuk ngelap kaca pak” kata seorang siswa dengan nada pelan.

“Ngelap kaca, pakai koran?” sahut saya

“Iya, Pak, biar bersih”

Sejenak saya berfikir, menatap siswa-siswa yang menjawab.

“Kata bu guru, supaya ambil di sini, Pak”

Saya menggeleng kepala dengan pelan, lalu saya luncurkan kalimat “tidak ada Koran bekas.”

Siswa pun kembali ke kelas dengan teratur.

Permintaan siswa tidak saya penuhi, dan saya pun melarang keras petugas perpustakaan melayani permintaannya. Bukan kami pelit, tapi ini masalah persepsi yang salah tentang keberadaan koran di perpustakaan. Koran pada umumnya dianggap barang sekali pakai, hingga muncul kosa kata “koran bekas.” Kosa kata ini menciptakan jurang pemisah yang lebar antara koran dengan sumber informasi lain, seperti majalah, buletin, bahkan dengan buku. Situasi seperti ini mengakibatkan perlakuan kita terkadang “semena-mena” terhadap koran. Apa lagi didukung oleh material kertasnya yang cukup rapuh sehingga kita mendudukan koran dalam derajat yang paling rendah, hanya sekedar menjadi bungkus kacang atau pembersi kaca.

Mungkin ini berlebihan, tetap saya berpikir, koran memiliki derajat yang sama jika dilihat dari fungsinya sebagai media informasi atau sumber belajar. Koran tidak hanya menyimpan berita, tetapi juga menyimpan beragam pemikiran menyangkut berbagai aspek kehidupan. Banyak pemikiran-pemikiran penting terkait dengan persoalan aktual yang menuntut solusi segera. Di sisi lain yang bersifat harian dapat menjadi catatan penting menyangkut peristiwa tertentu, baik dalam lingkup lokal, nasional atau global. Di sinilah sebenarnya koran dapat dijadikan sebagai dokumen autentik yang pada saatnya akan digunakan sebagai rujukan generasi yang akan datang. Pemikiran dan informasi yang ada di dalamnya meskipun bersifat temporer, namun pemanfaatannya tidak mengenal batas waktu. Kapan saja setiap generasi bisa menyaksikan tinggalan-tingalan pemikiran, iformasi dan pengetahuan yang telah lampau, atau membuka kembali dokumentasi peradaban, meski hanya sekedar untuk bernostalgia.

Pendeknya, koran merupakan kekayaan intelektual yang tak lekang oleh waktu, maka istilah koran bekas tidaklah tepat. Kita harus merubah persepsi kita bahwa koran bukanlah barang basi yang bisa diperlakukan sesuai kemauan kita. Sekolah sebagai tempat menyemai pengetahuan dan nilai-nila harus ikut ambil bagian dalam upaya mendudukan koran sebagai sumber belajar yang bermartabat. Upaya ini dapat dilakukan dengan menyusun kliping secara periodik sesuai dengan permasalahannya.

Jadi, jangan ada lagi koran bekas!

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Manfaat bgt pa

15 Nov
Balas

Manfaat bgt pa

15 Nov
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali